Pages

Tugas MK Arsitektur Pohon 2017 : Attim, Massart, Scarrone

Sabtu, 18 Maret 2017

Tugas Dosen : Atus Syahbuddin, S.Hut., M.Agr., Ph.D.
Mahasiswa a.n Saraswati Widyasari (13/351893/KT/07570)

Aliran Batang (Stemflow) Pada Model Arsitektur Pohon Massart, Scarrone, dan Attim

Arsitektur pohon adalah gambaran morfologi dari pohon pada suatu kurun waktu. Arsitektur pohon merupakan hasil pertumbuhan dari jaringan meristem apikal yang membentuk pola-pola percabangan pada pohon dan pola ini berlanjut dengan pengulangan yang sama. Suatu jenis pohon tertentu akan memiliki pola-pola yang tertentu dalam pertumbuhan percabangannya yang kemudian akan membentuk model-model tertentu. Pohon yang berada pada kelompok biologi yang sama, cenderung memiliki kesamaan dalam bentuk dan pola arsitekturnya (Tomlinson, 1986).
Unsur-unsur dari arsitektur pohon terdiri dari pola pertumbuhan batang, percabangan dan pembentukan puncak terminal. Halle et al. (1978) menyatakan bahwa berdasar keberadaan cabang dan axis vegetatif, model arsitektur pohon dibedakan 4 karakteristik utama, yaitu :
  1. Pohon tidak bercabang yaitu bagian vegetatif pohon terdiri dari satu axis dan dibangun oleh meristem soliter. Contohnya model Holtum dan model Corner.
  2. Pohon bercabang dengan axis vegetatif ekivalen dan orthotropik. Contohnya model Tomlinson, model Chamberlain, model Leuwenberg dan model Schoute. 
  3. Pohon bercabang dengan axis vegetatif nonekivalen. Contohnya model Prevost, model Rauh, model Cook, model Koriba, model Fagerlind, model Petit, model Aubreville, model Theoretical, model Scarrone, model Attim, model Nozeran, model Massart dan model Roux
  4. Pohon bercabang dengan axis vegetatif campuran antara ekivalen dan non ekivalen. Contohnya : model Troll, model Champagnat dan model Mangenot.



Pada artikel kali ini, model yang akan dibahas adalah model arsitektur pohon Massart, Scarrone, dan Attim. Pembahasan meliputi karakteristik dari masing-masing model arsitektur, penggambaran dari model, serta hubungan antar model arsitektur pohon dengan aliran batang (stemflow).

1. Model Massart
Model arsitektur pohon Massart adalah model yang terbentuk dari batang monopodial dan orthotropik dengan memiliki pertumbuhan ritmik dan secara berurutan yang menghasilkan percabangan bertingkat secara teratur yang berasal dari pertumbuhan meristem pada batang. Cabang-cabang lateral yang bersifat plagiotropik akan membentuk simetris. Perbungaan pada model Massart akan muncul dari cabang lateral dan dari batang utama (Massart, 1923 dalam Halle et al. 1978). Contoh pohon dengan model Massart adalah Randu (Ceiba pentandra), Keruing (Dipterocarpus), Pala (Myristica fragrans), Eboni (Diospyros sp), Araucaria calumnaris dan Damar (Agathis loranthifolia).

2. Model Scarrone
Merupakan model dengan karakteristik barcabang, poliaksial atau pohon dengan beberapa axis yang berbeda, dengan axis vegetatif yang tidak ekuivalen dengan bentuk homogen, semuanya orthotropik, percabangan monopodial dengan perbungaan terminal, terletak pada bagian tajuk, cabang simpodial nampak seperti konstruksi modular, batang dengan pertumbuhan tinggi ritmik. Jenis tanaman yang memiliki model arsitektur pohon seperti ini adalah famili Lauraceace dan Saurauiaceae (Aththorick, 2000). Beberapa jenis pohon yang termasuk ke dalam model ini diantaranya Mangga (Mangifera indica), Pandan (Pandanus pulcher), Jambu mete (Anacardium occidentale), Kedondong (Spondias pinnata), Johar (Cassia siamea), Langar (Peltophorum pterocarpum), Waru (Hibiscus tiliaceus), Pongang (Schefflera sp), Huru lunglum (Litsea noronhae).


3. Model Attim
     Model Attims merupakan model arsitektur pohon dengan ciri-ciri batang bercabang, poliaksial atau pohon dengan beberapa aksis yang berbeda. Aksis vegetatif tidak ekuivalen dengan homogen, semuanya orthotropik. Percabangan monopodial dengan perbungaan lateral dan mempunyai batang pokok yang mengalami pertumbuhan secara kontinyu (Gambar 4). Jenis pohon yang memiliki model arsitektur ini dari famili Moraceae, Rutaceae, dan Sapindaceae. (Firoroh, 2009).



Hubungan Antara Model Arsitektur Massart, Attim, dan Scarrone Terhadap Aliran Batang

Informasi mengenai hubungan arsitektur pohon dengan aliran batang penting untuk diketahui karena dapat digunakan untuk mencegah erosi yang terjadi dengan menggunakan tanaman. Hujan yang turun akan tertahan di tajuk pohon, sebagian diuapkan ke atmosfer dan sebagian lagi jatuh ke lantai hutan sebagai curahan tajuk (Manokaran 1979). Air hujan yang tertampung oleh permukaan daun akan mengalir melalui batang menuju tanah sebagai aliran batang (stemflow). Selanjutnya curahan tajuk dan aliran batang mengalir di permukaan tanah membentuk aliran permukaan (surface run off) dan mengangkut partikel-partikel tanah (Tajang 1980). Besar atau kecilnya suatu aliran batang dapat dipengaruhi salah satunya oleh model arsitektur pohon. Arsitektur pohon dibedakan berdasarkan batang, percabangan, daun dan bunga. Menurut Manokaran (1979), bentuk percabangan dan tinggi pohon bebas cabang akan mempengaruhi aliran batang. Percabangan yang melebar akan memperkecil aliran batang. Pada aliran batang akan besar nilainya pada model arsitektur dengan percabangan yang menyempit.
Aliran batang (stemflow) adalah sebagian dari air hujan yang tertahan oleh tajuk vegetasi, lalu mengalir melalui batang, dan sampai ke permukaan tanah (Fellizar 1976). Menurut Manokaran (1979) aliran batang merupakan bagian hujan yang terintersepsi, berkumpul dan mengalir ke permukaan tanah melalui batang. Air hujan yang mengalir ke batang mempunyai koefisien input batang. Adapun fungsi aliran batang berpartisipasi dalam memberikan kontribusi masuknya air ke dalam tanah.
         Aliran batang dari pohon dengan model Massart memiliki nilai yang tinggi. Tingginya aliran batang pada arsitektur Massart dapat dihubungkan dengan pola percabangannya. Model Massart memiliki cabang plagiotropik yang muncul dari batang dan bergerak horizontal di sepanjang batang secara simetris. Hal ini menyebabkan tajuk dan percabangan tidak mengelompok dan memberikan ruang terbuka di sekitar batang yang dapat digunakan air hujan sebagai pintu masuk. Kondisi ini mengakibatkan bila terjadi hujan, air hujan akan langsung jatuh ke batang pohon yang kemudian mengalir menjadi aliran batang (stem flow). Hal ini juga didukung oleh ukuran diameter yang berukuran besar. 



Menurut Debral dan Rao (1968) dalam Manokaran (1979), semakin besar diameter suatu batang maka akan semakin besar pula aliran batang yang terjadi. Hal tersebut diakibatkan karena luasan yang digunakan untuk menampung air hujan lebih besar sehingga volume air yang ditampung dapat lebih banyak. Berdasarkan penelitian dari Aththorick (2000), bila dibandingkan dengan model Rauh, aliran batang dari model Massart memiliki nilai yang lebih tinggi.

Pada model Attim, aliran batang yang terjadi cukup tinggi karena karakteristik model Attim yang memiliki cabang dan batang dengan pertumbuhan kontinyu dan pola percabangan orthothropik. Semakin banyak atau semakin kompleks percabangan dari suatu pohon maka air yang tertahan semakin banyak sehingga aliran batang yang terjadi pun semakin tinggi. Menurut penelitian dari Anonim (2006), aliran batang yang terjadi pada pohon dengan model Attim memiliki aliran batang yang lebih rendah bila dibandingkan dengan pohon dari model Rauh. Hal ini di akibatkan karena sudut antara cabang dan batang pokok tidak terlalu lebar. Namun bila dibandingkan dengan model arsitektur pohon yang lain, aliran batang yang terjadi pada model Attim masih lebih tinggi.


Model arsitektur Scarrone, aliran batang yang terjadi tidak cukup tinggi karena model Scarrone memiliki percabangan yang banyak tetapi ukurannya cukup kecil. Hal ini juga didukung oleh penelitian dari Anonim (2006), bahwa model arsitektur Scarrone memiliki hubungan yang positif dengan aliran permukaan. Hal ini diperkirakan terjadi karena air hujan yang jatuh langsung ke tanah cukup tinggi sehingga terjadi run off.


Dari ketiga model tersebut, model Massart lah yang memiliki aliran batang yang paling tinggi. Aliran batang mempengaruhi besar kecilnya laju dari aliran permukaan. Semakin tinggi aliran batang yang, maka air yang masuk ke tanah semakin banyak begitu juga sebaliknya. Aliran batang dapat mencegah curah hujan langsung jatuh ke tanah sehingga dapat mencegah terjadinya erosi. Oleh karena itu dari ketiga model tersebut, model Massart sangat cocok digunakan untuk kegiatan konservasi tanah dan air.

Daftar Pustaka :
Anonim, 2006. Korelasi Model Arsitektur Pohon Dengan Laju Aliran Batang, Curahan Tajuk, Infiltrasi, Aliran Permukaan Dan Erosi Pada Wilayah Hulu Daerah Aliran Sungai Cianjur. Institut Pertanian Bogor. Bogor 
Aththorick, T. Alief. 2000. Pengaruh Arsitektur Pohon Model Massart dan Rauh Terhadap Aliran Batang, Curahan Tajuk, Aliran Permukaan, dan Erosi Di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi. IPB. Bogor
Fellizer FP. 1976. Stemflow Characteristics of Parashore Plicata, Pentacme contorta and Arenga pinnata. A Philippine Science J forest. 2:85-92.
Firoroh, Irfiah. 2009. Kajian Profil Vegetasi Terhadap Konservasi Air (Aliran Batang, Curahan Tajuk, Dan Infiltrasi) Di Kebun Campur Sumber Tirta Senjoyo Semarang. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor
Halle F, Oldeman RAA, Tomlinson PB. 1978. Tropical Trees And Forest An Architectural Analysis. New york: Springer-verlag. hlm 84-97.
Manokaran N. 1979. Stemflow, Throughfall and Rainfall Interception in a Lowland and Tropical Rain Forest in Peninsular Malaysia. The Malaysian Forester 42(3): 174 – 201.
Tajang MHL. 1980. Penelitian Curah Hujan Efektif dan Neraca Air Tanah untuk Pertanian Tanah Kering pada Dua Lokasi di Sulawesi Selatan.[tesis]. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, IPB
Tomlinson, P. B. 1986. The Botany Of Mangroves. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom







 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS