Tugas Dosen : Atus Syahbuddin, S.Hut., M.Agr., Ph.D.
Mahasiswa a.n Saraswati Widyasari (13/351893/KT/07570)
Aliran Batang
(Stemflow) Pada Model Arsitektur Pohon Massart, Scarrone, dan Attim
Arsitektur
pohon adalah gambaran morfologi dari pohon pada suatu kurun waktu. Arsitektur
pohon merupakan hasil pertumbuhan dari jaringan meristem apikal yang membentuk
pola-pola percabangan pada pohon dan pola ini berlanjut dengan pengulangan yang
sama. Suatu jenis pohon tertentu akan memiliki pola-pola yang tertentu dalam
pertumbuhan percabangannya yang kemudian akan membentuk model-model tertentu.
Pohon yang berada pada kelompok biologi yang sama, cenderung memiliki kesamaan
dalam bentuk dan pola arsitekturnya (Tomlinson, 1986).
Unsur-unsur
dari arsitektur pohon terdiri dari pola pertumbuhan batang, percabangan dan
pembentukan puncak terminal. Halle et al.
(1978) menyatakan bahwa berdasar keberadaan cabang dan axis vegetatif, model
arsitektur pohon dibedakan 4 karakteristik utama, yaitu :
- Pohon tidak bercabang yaitu bagian vegetatif pohon terdiri dari satu axis dan dibangun oleh meristem soliter. Contohnya model Holtum dan model Corner.
- Pohon bercabang dengan axis vegetatif ekivalen dan orthotropik. Contohnya model Tomlinson, model Chamberlain, model Leuwenberg dan model Schoute.
- Pohon bercabang dengan axis vegetatif nonekivalen. Contohnya model Prevost, model Rauh, model Cook, model Koriba, model Fagerlind, model Petit, model Aubreville, model Theoretical, model Scarrone, model Attim, model Nozeran, model Massart dan model Roux
- Pohon bercabang dengan axis vegetatif campuran antara ekivalen dan non ekivalen. Contohnya : model Troll, model Champagnat dan model Mangenot.
Pada
artikel kali ini, model yang akan dibahas adalah model arsitektur pohon
Massart, Scarrone, dan Attim. Pembahasan meliputi karakteristik dari
masing-masing model arsitektur, penggambaran dari model, serta hubungan antar
model arsitektur pohon dengan aliran batang (stemflow).
1. Model Massart
Model
arsitektur pohon Massart adalah model yang terbentuk dari batang monopodial dan
orthotropik dengan memiliki pertumbuhan ritmik dan secara berurutan yang
menghasilkan percabangan bertingkat secara teratur yang berasal dari
pertumbuhan meristem pada batang. Cabang-cabang lateral yang bersifat
plagiotropik akan membentuk simetris. Perbungaan pada model Massart akan muncul
dari cabang lateral dan dari batang utama (Massart, 1923 dalam Halle et al. 1978). Contoh pohon dengan model Massart adalah
Randu (Ceiba pentandra), Keruing (Dipterocarpus), Pala (Myristica fragrans), Eboni (Diospyros sp), Araucaria calumnaris dan Damar (Agathis
loranthifolia).
2. Model Scarrone
Merupakan
model dengan karakteristik barcabang, poliaksial atau pohon dengan beberapa
axis yang berbeda, dengan axis vegetatif yang tidak ekuivalen dengan bentuk
homogen, semuanya orthotropik, percabangan monopodial dengan perbungaan
terminal, terletak pada bagian tajuk, cabang simpodial nampak seperti
konstruksi modular, batang dengan pertumbuhan tinggi ritmik. Jenis tanaman yang
memiliki model arsitektur pohon seperti ini adalah famili Lauraceace dan
Saurauiaceae (Aththorick, 2000).
Beberapa jenis pohon yang termasuk ke dalam model ini diantaranya Mangga (Mangifera indica), Pandan (Pandanus pulcher), Jambu mete (Anacardium occidentale), Kedondong (Spondias pinnata), Johar (Cassia siamea), Langar (Peltophorum pterocarpum), Waru (Hibiscus tiliaceus), Pongang (Schefflera sp), Huru lunglum
(Litsea noronhae).
3. Model Attim
Model Attims merupakan model
arsitektur pohon dengan ciri-ciri batang bercabang, poliaksial atau pohon
dengan beberapa aksis yang berbeda. Aksis vegetatif tidak ekuivalen dengan
homogen, semuanya orthotropik. Percabangan monopodial dengan perbungaan lateral
dan mempunyai batang pokok yang mengalami pertumbuhan secara kontinyu (Gambar
4). Jenis pohon yang memiliki model arsitektur ini dari famili Moraceae,
Rutaceae, dan Sapindaceae. (Firoroh, 2009).
Hubungan Antara Model Arsitektur Massart, Attim, dan
Scarrone Terhadap Aliran Batang
Informasi
mengenai hubungan arsitektur pohon dengan aliran batang penting untuk diketahui
karena dapat digunakan untuk mencegah erosi yang terjadi dengan menggunakan
tanaman. Hujan yang turun akan tertahan di tajuk pohon, sebagian diuapkan ke
atmosfer dan sebagian lagi jatuh ke lantai hutan sebagai curahan tajuk
(Manokaran 1979). Air hujan yang tertampung oleh permukaan daun akan mengalir
melalui batang menuju tanah sebagai aliran batang (stemflow). Selanjutnya
curahan tajuk dan aliran batang mengalir di permukaan tanah membentuk aliran
permukaan (surface run off) dan mengangkut partikel-partikel tanah (Tajang
1980). Besar atau kecilnya suatu aliran batang dapat dipengaruhi salah satunya
oleh model arsitektur pohon. Arsitektur pohon dibedakan berdasarkan batang,
percabangan, daun dan bunga. Menurut Manokaran (1979), bentuk percabangan dan
tinggi pohon bebas cabang akan mempengaruhi aliran batang. Percabangan yang
melebar akan memperkecil aliran batang. Pada aliran batang akan besar nilainya
pada model arsitektur dengan percabangan yang menyempit.
Aliran batang
(stemflow) adalah sebagian dari air hujan yang tertahan oleh tajuk vegetasi,
lalu mengalir melalui batang, dan sampai ke permukaan tanah (Fellizar 1976).
Menurut Manokaran (1979) aliran batang merupakan bagian hujan yang
terintersepsi, berkumpul dan mengalir ke permukaan tanah melalui batang. Air
hujan yang mengalir ke batang mempunyai koefisien input batang. Adapun fungsi
aliran batang berpartisipasi dalam memberikan kontribusi masuknya air ke dalam
tanah.
Aliran batang dari pohon dengan model Massart memiliki
nilai yang tinggi. Tingginya aliran batang pada arsitektur Massart dapat
dihubungkan dengan pola percabangannya. Model Massart memiliki cabang
plagiotropik yang muncul dari batang dan bergerak horizontal di sepanjang
batang secara simetris. Hal ini menyebabkan tajuk dan percabangan tidak mengelompok
dan memberikan ruang terbuka di sekitar batang yang dapat digunakan air hujan
sebagai pintu masuk. Kondisi ini mengakibatkan bila terjadi hujan, air hujan
akan langsung jatuh ke batang pohon yang kemudian mengalir menjadi aliran
batang (stem flow). Hal ini juga didukung oleh ukuran diameter yang berukuran
besar.
Menurut Debral
dan Rao (1968) dalam Manokaran
(1979), semakin besar diameter suatu batang maka akan semakin besar pula aliran
batang yang terjadi. Hal tersebut diakibatkan karena luasan yang digunakan
untuk menampung air hujan lebih besar sehingga volume air yang ditampung dapat
lebih banyak. Berdasarkan penelitian dari Aththorick (2000), bila dibandingkan
dengan model Rauh, aliran batang dari model Massart memiliki nilai yang lebih
tinggi.
Pada model
Attim, aliran batang yang terjadi cukup tinggi karena karakteristik model Attim
yang memiliki cabang dan batang dengan pertumbuhan kontinyu dan pola
percabangan orthothropik. Semakin banyak atau semakin kompleks percabangan dari
suatu pohon maka air yang tertahan semakin banyak sehingga aliran batang yang
terjadi pun semakin tinggi. Menurut penelitian dari Anonim (2006), aliran
batang yang terjadi pada pohon dengan model Attim memiliki aliran batang yang
lebih rendah bila dibandingkan dengan pohon dari model Rauh. Hal ini di
akibatkan karena sudut antara cabang dan batang pokok tidak terlalu lebar.
Namun bila dibandingkan dengan model arsitektur pohon yang lain, aliran batang
yang terjadi pada model Attim masih lebih tinggi.
Model
arsitektur Scarrone, aliran batang yang terjadi tidak cukup tinggi karena model
Scarrone memiliki percabangan yang banyak tetapi ukurannya cukup kecil. Hal ini
juga didukung oleh penelitian dari Anonim (2006), bahwa model arsitektur
Scarrone memiliki hubungan yang positif dengan aliran permukaan. Hal ini
diperkirakan terjadi karena air hujan yang jatuh langsung ke tanah cukup tinggi
sehingga terjadi run off.
Dari ketiga
model tersebut, model Massart lah yang memiliki aliran batang yang paling
tinggi. Aliran batang mempengaruhi besar kecilnya laju dari aliran permukaan.
Semakin tinggi aliran batang yang, maka air yang masuk ke tanah semakin banyak
begitu juga sebaliknya. Aliran batang dapat mencegah curah hujan langsung jatuh
ke tanah sehingga dapat mencegah terjadinya erosi. Oleh karena itu dari ketiga
model tersebut, model Massart sangat cocok digunakan untuk kegiatan konservasi
tanah dan air.
Daftar Pustaka :
Anonim, 2006. Korelasi Model
Arsitektur Pohon Dengan Laju Aliran Batang, Curahan Tajuk, Infiltrasi, Aliran Permukaan Dan Erosi Pada Wilayah Hulu
Daerah Aliran Sungai Cianjur. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Aththorick, T. Alief. 2000. Pengaruh Arsitektur Pohon Model Massart dan Rauh Terhadap Aliran Batang, Curahan Tajuk, Aliran Permukaan, dan Erosi Di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi. IPB. Bogor
Fellizer FP. 1976. Stemflow
Characteristics of Parashore Plicata, Pentacme contorta and Arenga pinnata.
A Philippine Science J forest. 2:85-92.
Firoroh, Irfiah. 2009. Kajian Profil Vegetasi Terhadap Konservasi
Air (Aliran Batang, Curahan Tajuk, Dan Infiltrasi) Di Kebun Campur Sumber Tirta
Senjoyo Semarang. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor
Halle F, Oldeman RAA, Tomlinson PB. 1978. Tropical Trees And Forest An Architectural Analysis. New york: Springer-verlag. hlm 84-97.
Manokaran N. 1979. Stemflow, Throughfall
and Rainfall Interception in a Lowland and Tropical Rain Forest in
Peninsular Malaysia. The Malaysian Forester 42(3): 174 – 201.
Tajang MHL. 1980. Penelitian
Curah Hujan Efektif dan Neraca Air Tanah untuk Pertanian Tanah Kering pada
Dua Lokasi di Sulawesi Selatan.[tesis]. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, IPB
Tomlinson, P. B. 1986. The Botany Of Mangroves. Cambridge University
Press, Cambridge, United Kingdom








Tidak ada komentar:
Posting Komentar